Senin, 28 Februari 2011

Enterobacter sakazakii

Enterobacter sakazakii merupakan bakteri gram negatif anaerob fakultatif, berbentuk koliform (kokoid), dan tidak membentuk spora. Bakteri ini termasuk dalam famili Enterobacteriaceae. Sampai tahun 1980 E. sakazakii dikenal dengan nama Enterobacter cloacae berpigmen kuning.

Pada tahun 1980, bakteri ini dikukuhkan dalam genus Enterobacter sebagai suatu spesies baru yang diberi nama Enterobacter sakazakii untuk menghargai seorang bakteriolog Jepang bernama Riichi Sakazakii. Reklasifikasi ini dilakukan berdasarkan studi DNA hibridisasi yang menunjukkan kemiripan 41% dengan Citrobacter freundii dan 51% dengan Enterobacter cloacae .

Habitat dan Sumber Penyebaran

Enterobacter sakazakii bukan merupakan mikroorganisme normal pada saluran pencernaan hewan dan manusia, sehingga disinyalir bahwa tanah, air, sayuran, tikus dan lalat merupakan sumber infeksi. Enterobacter sakazakii dapat ditemukan di beberapa lingkungan industri makanan(pabrik susu, coklat, kentang, sereal, dan pasta), lingkungan berair, sedimen tanah yang lembab. Dalam beberapa bahan makanan yang potensi terkontaminasi E. sakazakii antara lain keju, sosis, daging cincang awetan, sayuran, dan susu bubuk.

Bahaya Kesehatan

Laporan mengenai infeksi E. sakazakii menunjukkan bahwa bakteri ini dapat menyebabkan radang selaput otak dan radang usus pada bayi. Kelompok bayi yang memiliki risiko tertinggi terinfeksi E. sakazakii yaitu neonatus (baru lahir hingga umur 28 hari), bayi dengan gangguan sistem tubuh, bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR), bayi prematur, dan bayi yang lahir dari ibu yang mengidap Human Immunodeficiency Virus(HIV)

Enterobacter sp. merupakan patogen nosokomial yang menjadi penyebab berbagai macam infeksi termasuk bakteremia, infeksi saluran pernapasan bagian bawah, infeksi kulit dan jaringan lunak, infeksi saluran kemih, infeksi dalam perut, radang jantung, radang sendi, osteomyelitis, dan infeksi mata

Angka kematian akibat infeksi E. sakazakii mencapai 40-80%. Sebanyak 50% pasien yang dilaporkan menderita infeksi E. sakazakii meninggal dalam waktu satu minggu setelah diagnosa. Hingga kini belum ada penentuan dosis infeksi E. sakazakii, namun sebesar 3 cfu/100 gram dapat digunakan sebagai perkiraan awal dosis infeksi

sumber : http://id.wikipedia.org

Susu Formula Berbakteri versi MetroTV

SALAH satu hal yang harus kita bisa lakukan adalah menjadikan bangsa ini sebagai masyarakat berpengetahuan. Dengan itulah maka bangsa ini akan mempunyai wawasan yang luas dan tidak terjebak dalam persoalan yang sekadar menimbulkan ingar-bingar.

Beberapa hari belakangan ini kita diramaikan oleh perdebatan berkaitan susu formula yang mengandung bakteri. Apalagi ketika Mahkamah Agung memutuskan untuk mengumumkan susu formula yang ada di pasaran, yang diduga tercemar Enterobacter sakazakii. Dengan alasan untuk kepentingan publik, maka para peneliti Institut Pertanian Bogor dan juga Badan Pengawasan Obat dan Makanan serta Kementerian Kesehatan diharuskan mengumumkan secara terbuka nama susu formula yang didapati tercemar bakteri.
Kita tidak bermaksud untuk tidak menaati keputusan MA yang berkekuatan hukum tetap. Namun apa yang sedang terjadi sekarang ini tidak sesuai dengan kaidah ilmu pengetahuan dan kebebasan yang dimiliki oleh seorang peneliti dalam melakukan penelitian bagi kebaikan kehidupan manusia.
Mengapa kita sampai mengatakan seperti itu? Peneliti IPB yang melakukan penelitian terhadap kemungkinan adanya Enterobacter sakazakii di dalam susu formula, bukan sedang melakukan pemeriksaan terhadap susu formula yang beredar di pasaran. Peneliti itu sedang mencoba menemukan ada atau tidak bakteri sakazakii di dalam susu formula.
Dari 22 sampel yang diambil, ditemukan adanya bakteri sakazakii pada lima sampel. Langkah selanjutnya adalah mencoba mengetahui bahaya dari keberadaan bakteri sakazakii tersebut di dalam susu formula. Untuk itulah lalu dilakukan percobaan kepada mencit atau anak tikus putih.
Hasil penelitian yang dilakukan tahun 2003-2006 itu kemudian dibawakan dalam forum ilmiah dengan diberi judul "Potensi kejadian Meningitis pada Mencit Neonatus akibat infeksi Enterobacter sakazakii yang diisolasi dari Makanan Bayi dan Susu Formula". Penelitian ini dipublikasikan melalui website IPB pada tanggal 17 Februari 2008.
Di kalangan para peneliti, hasil penelitian seperti ini merupakan sesuatu yang biasa. Bahkan dari debat ilmiah bisa dikembangkan lebih lanjut bagaimana misalnya mengendalikan bakteri tersebut agar tidak membahayakan kesehatan manusia. Atau kalau memang dianggap sangat membahayakan kesehatan masyarakat bisa dimasukkan sebagai usulan kepada BPOM maupun Kementerian Kesehatan untuk misalnya melakukan penelitian lebih lanjut dan bahkan mungkin melarang susu formula yang mengandung Enterobacter sakazakii untuk beredar di pasaran.
Hasil penelitian yang seharusnya didekati dari kacamata ilmiah menjadi persoalan ketika dibawa menjadi bahasan awam di ranah publik. Apalagi kemudian tidak ditempatkan konteks yang tepat bahwa yang sedang dilakukan bukanlah pemeriksaan terhadap semua produk susu formula yang ada di pasaran, tetapi pencarian terhadap ada atau tidaknya bakteri sakazakii pada susu formula.
Kesalahkaprahan ini semakin menjadi-jadi ketika dijadikan ajang untuk mencari sensasi. Penelitian ilmiah dibawa ke dalam ranah hukum. Yang lebih menyedihkan, kini persoalan dibawa lagi ke ranah politik. Anggota DPR begitu genit untuk seakan-akan membela kepentingan rakyat, tanpa mencoba memahami duduk perkara penelitian yang sebenarnya dilakukan.
Kalau persoalan ilmiah didekati dengan cara pandang yang tidak ilmiah, maka pasti yang lebih mencuat adalah kontroversi. Kalau peneliti selalu ditakut-takuti oleh cara-cara seperti itu, maka ilmu pengetahuan Indonesia tidak akan pernah berkembang. Sepanjang kita masih bersikap seperti itu, maka ilmu pengetahuan kita akan semakin jauh tertinggal dari bangsa-bangsa lain.
Padahal bangsa lain justru mendorong ilmuwannya untuk melakukan penelitian. Bangsa Korea misalnya sudah berhasil melakukan kloning pada hewan. Dengan dasar ilmu pengetahuan itu, maka bangsa Korea semakin melompat tinggi dan berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain.
Apakah seorang peneliti bisa salah? Sebagai seorang manusia biasa, pasti peneliti bisa salah. Namun kesalahan yang dilakukan peneliti tidak bisa dikriminalkan. Kalau pun ada pelanggaran berat yang dilakukan, itu harus dinyatakan bersalah terlebih dahulu oleh Komite Etik Peneliti.
Kriminalisasi terhadap peneliti tidak bisa dibiarkan, karena itu akan mempengaruhi kemajuan bangsa ini. Orang akan malas menjadi peneliti, karena akan dihadapkan kepada hal-hal yang tidak masuk akal. Padahal menjadi seorang peneliti tidak bisa begitu saja, tetapi harus melalui jenjang profesional yang panjang.
Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) harus turun tangan untuk menyelesaikan kekisruhan yang terjadi sekarang ini. AIPI tidak bisa membiarkan para peneliti kita dijadi-jadikan bulan-bulanan para politisi yang butuh panggung ataupun para petualang yang membutuhkan popularitas. AIPI harus tampil untuk mendudukkan perkara dan sekaligus mengedukasi bangsa ini.
Jangan biarkan persoalan yang berkaitan dengan bakteri pada susu formula menjadi persoalan IPB atau BPOM atau Kementerian Kesehatan semata. Ini harus menjadi persoalan AIPI, karena ini akan mempengaruhi nasib para peneliti Indonesia.
Bangsa ini tidak akan pernah mempunyai orang-orang sekelas Albert Einstein, kalau kondisinya seperti ini. Padahal dari "kegilaan" peneliti seperti itulah akan ditemukan sesuatu yang besar dan bermanfaat bagi kehidupan bangsa ini. Dari penelitian-penelitian yang jauh berwawasan ke depan akan bisa membawa Indonesia dikenal sebagai negara terkemuka, karena ilmuwan-ilmuwannya mendapat penghargaan Nobel dari hasil ketekunan melakukan penelitian.
Pilihan lain kita akan terus menjadi bangsa paria seperti sekarang ini. Bangsa yang hanya ramai dalam berwacana, namun tidak pandai dalam melakukan karya yang bermanfaat bagi kehidupan bangsa dan negaranya.

sumber : http://www.metrotvnews.com

Daftar Susu Aman Bebas Sakazakii

Saat ini semua orang tua yang memiliki anak minum susu formula mencari daftar susu yang aman. Sebenarnya tidak perlu dilakukan karena sebenarnya tidak ada susu bubuk formula yang aman bebas bakteri. Sejauh ini daftar susu yang aman dan bebas berbakteri baik Sakazakii atau bakteri yang lain hanya dua. Pertama ASI (air Susu Ibu) dan kedua adalah susu cair kemasan siap saji bukan susu bubuk. Fenomena susu mengandung bakteri Sakazakii dapat merupakan peringatan Sang Pencipta manusia, bahwa para ibu mulai mengabaikan kehebatan dan keamanan ASI bagi buah hatinya.

Adanya daftar susu bubuk formula yang aman bebas bakteri seperti yang dilaporkan BPOM seharusnya masih diperdebatkan secara ilmiah. Karena, cara pemeriksaannya spesifitas dan sensitifitasnya berbeda dengan pemeriksaan yang dilakukan IPB dan FDA (United States Food and Drug Administration). Faktanya IPB dan FDA telah menemukan bakteri susu sakazaki dengan angka yang sama. Sehingga FDA dan WHO sudah lama merekomendasikan bahwa semua susu bubuk formula tidak steril dan beresiko mengandung bakteri.

Semua Susu Bubuk Formula Tidak Steril

Masalah terpenting dalam kasus ini mungkin bukan merek susu yang tercemar. Permasalahan sebenarnya adalah semua produk susu bubuk komersial memang bukan produk yang steril. Hal ini juga pernah dialami oleh negara maju seperti Kanada, Inggris, Amerika dan negara lainnya. Sebenarnya temuan peneliti IPB terhadap 74 sampel susu formula, 13,5 persen di antaranya mengandung bakteri berbahaya tersebut, mungkin tidak terlalu mengejutkan. Karena, USFDA (United States Food and Drug Administration) telah melansir sebuah penelitian prevalensi kontaminasi susu di sebuah negara terhadap 141 susu bubuk formula didapatkan 20 (14%) kultur positif E. sakazakii. Sehingga WHO dan USFDA sudah menetapkan bahwa susu bubuk formula komersial memang tidak steril. Jadi bukan hanya produksi lokal saja yang beresiko tetapi produksi luar negeripun resiko terinfeksi bakteri tidak jauh berbeda.

Melihat beberapa fakta ilmiah tersebut tampaknya berbagai pihak harus arif dan bijak dalam menyikapi kekawatiran ini. Pemerintah dalam hal ini departemen kesehatan dan BPOM harus menyikapi secara profesional dengan melakukan kajian ilmiah mendalam baik secara biologis, epidemiologis, dan pengalaman ilmiah berbasis bukti (evidence base medicine). Berbagai elemen masyarakat seperti YLKI, Komnas Perlindungan Anak dan Ikatan Dokter Indonesia sebelum mengeluarkan opini sebaiknya harus mencari fakta ilmiah dan informasi yang benar tentang masalah ini. Pihak pengadilan dan Mahkamah Agung sebelum mengeluarkan keputusan yang sangat penting ini seharusnya melibatkan saksi ahli yang berkompeten dan kredibel. Keputusan yang salah dalam menyikapi masalah ini akan menimbulkan dampak yang lebih besar lagi. Berbagai opini dan sikap yang tidak benar malah dapat mengakibatkan kekawatiran orangtua bertambah.

Bila pemerintah harus mengumumkan susu berbakteri tersebut akan menimbulkan masalah yang lebih besar dan kekisruhan yang lebih hebat lagi. Dampak yang buruk dan berimplikasi yang luas, baik implikasi hukum, etika penelitian, sosial, dan medis. Kalau pemerintah atau Balai POM mengumumkan merek susu tersebut pasti akan membuat pabrik susu yang bersangkutan akan sekejap gulung tikar. Dampaknya lebih luar biasa, ratusan ribu bahkan jutaan manusia yang terkait dengan prduksi susu itu akan lebih sengsara. Belum lagi akan timbul dampak hukum baru bagi peneliti, dan pihak yang akan mengumumkan. Menurut etika penelitian selama bukan hal yang berbahaya atau mengancam nyawa manusia maka tidak boleh diumumkan secara luas obyek yang dijadikan bahan penelitian.

Kalaupun merek tersebut diumumkan juga tidak akan menyelesaikan masalah. Belum tentu merek yang lain nantinya juga aman. Bila penelitian tersebut dilakukan setiap periode sangat mungkin ada lagi susu yang tercemar. Karena pada dasarnya susu bubuk komersial adalah produk susu yang paling gampang tercemar bakteri. Bukan tidak mungkin nantinya banyak produk susu lambat laun pasti tercemar bakteri. Bila hal ini terjadi dalam perjalanan waktu tidak mustahil semua susu akan dilaporkan tercemar.

Benarkah Penelitian BPOM

Pada tahun 2009 BPOM mengambil sebanyak 11 sampel susu formula dan pada 2010 mengambil sebanyak 99 sampel. Tahun 2011, hingga Februari ini, BPOM mengambil sebanyak 18 sampel. Menurut BPOM hasil pengujian terhadap sampel sejumlah produk tersebut menunjukkan tidak ditemukan adanya cemaran Enterobacter sakazakii. Pengumuman BPOM ini juga sekaligus membantah kabar yang sempat beredar bahwa beberapa merek susu mengandung Enterobacter sakazakii. Memang penelitian BPOM tersebut benar, tetapi BPOM mengeluarkan rekomendasi bahwa terdapat beberapa merek susu yang aman dan bebas bakteri mungkin tidak sepenuhnya benar. Karena, penelitian BPOM dengan penelitian IPB sangat berbeda sensitivitas dan spesifitasnya. Kalaupun BPOM melakukan mekanisme pembelaan diri dengan terus mengajukan fakta penelitiannya yang berbeda dengan fakta sesungguhnya mungkin hanya sekedar menutupi fakta yang ada bahwa sebenarnya memang susu berbakteri itu memang ada di dalam susu formula sesuai penelitian IPB dan FDA.

Kalaupun BPOM mengeluarkan beberapa rekomendasi susu yang aman menurut penelitiannya tampaknya harus diperdebatkan secara ilmiah karena pemeriksaan IPB dan BPOM berbeda spesifitas dan sensitifitasnya. Bukan hanya penelitian IPB saja tetapi penelitian FDA menunjukkan hal yang sama bahwa sekitar 13,5%-14% dari semua susu produk merek susu berbakteri Sakazakii. Sehingga WHO dan FDA merekomendasikan memang semua susu bubuk formula tidak steril. Sedangkan orangtua tetap waspada tetapi tidak perlu kawatir berlebihan ternyata temuan IPB dan USFDA susu berbakteri itu tetapi tidak pernah terjadi kasus luar biasa, karena mungkin sebagian besar adalah kuman non pathogen atau yang tidak berbahaya. Sampai saat ini hanya beberapa negara yang melaporkan bahaya susu berbakteri tersebut tetapi sangat amat jarang. Susus berkateri tersebut hanya mengakibatkan bahaya pada bayi prematur sakit, sehingga pada bayi prematur sebaiknya tidak diberikan susu bubuk formula.

Keamanan dan Manfaat ASI

Air susu ibu (ASI) adalah makanan yang sempurna bagi bayi manusia dan berisi segala nutrien yang diperlukan untuk tumbuh dan berkembang selama sekurang-kurangnya enam bulan pertama. Menurut berbagai penelitian ASI diperkaya protein dan nutrisi lainnya mengandung lebih banyak kalori dan memicu pertumbuhan berat badan saat fase pertumbuhan penting. Selain mudah dicerna, ASI membantu melindungi bayi dari masalah seperti infeksi saluran napas, demam, infeksi telinga, infeksi saluran cerna, dan mengurangi risiko alergi. ASI juga berubah supaya sesuai dengan tiap tahap pertumbuhan bayi. Menyusui itu juga mudah suhu susu selalu benar, tidak ‘busuk’ dan cuma-cuma. Manfaat bagi Ibu adalah menyusui dapat membantu wanita mengurangi berat badan tambahan yang diperoleh sewaktu hamil, dan membantu rahim kembali ke usuran normal dengan lebih cepat. Menyusui melindungi wanita dari kanker payudara kelak. Menyusui juga dapat mengurangi risiko patah tulang pinggul dan kanker ovari kelak.

ASI selalu siap sedia setiap saat bayi menginginkannya, selalu dalam keadaan steril dan suhu susu yang pas. Dengan adanya kontak mata dan badan, pemberian ASI juga memberikan kedekatan antara ibu dan anak. Bayi merasa aman, nyaman dan terlindungi, dan ini mempengaruhi kemapanan emosi si anak di masa depan. Apabila bayi sakit, ASI adalah makanan yang terbaik untuk diberikan karena sangat mudah dicerna. Bayi akan lebih cepat sembuh. Bayi prematur lebih cepat tumbuh apabila mereka diberikan ASI perah. Komposisi ASI akan teradaptasi sesuai dengan kebutuhan bayi, dan ASI bermanfaat untuk menaikkan berat badan dan menumbuhkan sel otak pada bayi prematur. Penelitian menunjukkan beberapa penyakit lebih jarang muncul pada bayi ASI, di antaranya: kolik, SIDS (kematian mendadak pada bayi), eksim, Chron’s disease, dan Ulcerative Colitis. IQ pada bayi ASI lebih tinggi 7-9 point daripada IQ bayi non-ASI. Menurut penelitian pada tahun 1997, kepandaian anak yang minum ASI pada usia 9 1/2 tahun mencapai 12,9 poin lebih tinggi daripada anak-anak yang minum susu formula.Menyusui bukanlah sekadar memberi makan, tapi juga mendidik anak. Sambil menyusui, eluslah si bayi dan dekaplah dengan hangat. Tindakan ini sudah dapat menimbulkan rasa aman pada bayi, sehingga kelak ia akan memiliki tingkat emosi dan spiritual yang tinggi. Ini menjadi dasar bagi pertumbuhan manusia menuju sumber daya manusia yang baik dan lebih mudah untuk menyayangi orang lain

Rekomendasi dari berbagai institusi kesehatan Internasional adalah menganjurkan agar wanita harus memberikan ASI saja kepada bayi selama sekitar enam bulan. Menyusui harus dilengkapi dengan makanan yang sesuai dan disediakan secara bersih, dari usia 6
bulan. juga menganjurkan agar tetap menyusui sampai usia 12 bulan, atau lebih lama lagi. Manfaat yang dapat diperoleh dari menyusui mungkin berkelanjutan selama dua tahun dan selanjutnya.

Kerugian dan Bahaya Susu Formula

Sebenarnya muhjizat keamanan ASI telah diketahui sejak lama tetapi banyak yang mengabaikannya. Sebaliknya ketidakamanan susu bubuk formula sudah lama terjadi bukan hanya karena penelitian IPB saja tetapi penelitian FDA menunjukkan hal yang sama bahwa sekitar 13,5%-!4% dari semua susu produk merek susu berbakteri Sakazakii.

Susu bubuk formula dapat menjadi media pertumbuhan yang baik bagi bakteri, karena di dalamnya terdapat komponen biokimia yang juga diperlukan oleh bakteri untuk tumbuh dan berkembang. Selain E. sakazakii, didapatkan berbagai bakteri lain yang sering mengkontaminasi susu formula. E. Sakazakii adalah suatu kuman jenis gram negatif dari family enterobacteriaceae.

Bahaya susu bahkan mengungkap bahwa pemberian susu formula berlebihan pada bayi memicu obesitas saat usia anak. Peningkatan berat badan ini jelas memberi efek lanjutan terhadap risiko kesehatan.

Di sejumlah negara, pembatasan asupan susu formula telah tegas dilaksanakan dengan mengadopsi Kode Internasional Pemasaran Produk Pengganti ASI yang dikeluarkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 1981.

Daftar Susu Aman Bebas Bakteri

Masyarakat tidak perlu sibuk mencari produk susu mana yang tercemar atau mencari daftar merek susu bubuk formula yang aman dan bebas bakteri. Meskipun relatif aman, ternyata semua merek produk susu bubuk komersial memang tidak steril. Melihat ulasan di atas maka daftar susu yang aman dan bebas bakteri adalah ASI dan susu formula cair siap saji. Susu formula cair siap saji, dianggap sebagai produk komersial steril karena dengan proses pemanasan yang cukup.

Seharusnya pemerintah mengeluarkan rekomendasi bahwa memang susu komersial bukan produk steril seperti rekomendasi WHO dan USFDA dan beralih kepada ASI. Hal ini lebih beresiko lebih ringan, karena masyarakat akan lebih waspada dalam pencegahannya. Rekomendasi ini juga merupakan hal yang wajar karena di beberapa negara majupun hal ini sering terjadi. BPOM sebaiknya menghentikan pemberitaan tentang beberapa temuannya yang mengatakan bahwa semua produk susu bebas bakteri karena tidak sesuai dengan falta ilmiah yang ada. Bila susu bubuk komersial tetap dianggap aman, masyarakat tidak waspada atau lengah dalam proses penyajiannya. Selanjutnya tetap akan berdampak berbahaya pada anak yang kelompok tertentu yang beresiko terinfeksi. Pada anak yang beresiko seperti bayi prematur dan anak dengan gangguan fungsi kekebalan tubuh berat direkomendasikan dengan pemberian ASI atau susu bayi formula cair siap saji..

Bila ibu gagal memberi ASI dengan alasan kesehatan atau ASI tidak keluar maka sebaiknya memilih susu cair siap saji atau dengan melakukan penyajian susu bubuk formula dengan baik dan benar. Rekomendasi yang harus diperhatikan untuk mengurangi resiko infeksi tersebut adalah cara penyajian susu bubuk formula untuk bayi dengan baik dan benar. Pemanasan air di atas 70 C, bakteri yang ada dalam susu akan mati. Selama hal ini dilakukan para ibu tidak perlu cemas dan kawatir karena meski susu formula tidak bebas bakteri tetapi tetap aman dikonsumsi. Bila memilih susu cair siap saji, orang tua juga harus waspada cara penyimpanannya dan masa kadaluarsanya

Tampaknya fenomena ini adalah peringatan Sang Pencipta Manusia, bahwa para ibu mulai mengabaikan kehebatan dan keamanan ASI bagi buah hatinya. Melihat berbagai manfaat dan kemanan ASI tersebut maka sebaiknya orang tua sudah saatnya kembali ke “Back To Nature”. Bahwa ASI adalah muhjizat Tuhan yang terbaik dan paling aman bagi buah hati manusia. ASI adalah investasi paling berharga bagi anak manusia di kemudian hari. Tetapi sayangnya hal ini masih banyak yang menyangsikannya.